apa yang di punya
tak sebanding dengan semua yang kita bina
peluh memilih untuk semu
bersama nya mungkin hanya asa
namun tak begitu juga adanya
kelakar demi kelakar
bersambut dengan cita
pejam, sudah pejam rasa ini
degup, menjadi satu di pelupuk hati
terdengar riak rasa
gemiricik suasananya
lekam, sudah lekam pelu
tak jadi rasa
mengarak di ketiak semu
di kala putus nya hati
bertambat di tepian riak
ahh!
tak perlulah lagi mengecap
mengecap rasa ini
tinggal lah, di kediaman hati
se onggok pecahan jiwa
di teriknya gumpalan mentari
memecah ruang sisi jendela
kau, kapan kah kau?
hanya butuh satu kesatuan
yang utuh namun berbelah
di sana, tepian di sana
adanya gelap, tak menepi adanya terang
gelagat solek nan muram
semu, pelu, perih nan menghadang
tak menepi kesepian ini
tak kunjung juga....
tegerak, di akar nan kian jenjang
kau kapankah kau?
hanya butuh satu kesamaan
di rasa, di nyana, sentuh nya raba
kapan kah kau, datang menyambut asa..
asa..nan kian semu, namun benderangnya
yang akan terangi masa...
No comments:
Post a Comment